Upacara Minum Teh Jepang

Upacara Minum Teh Jepang

Seni Upacara Minum Teh Jepang

Sadō atau disebut juga cha no yu adalah etika tradisional dalam menyajikan dan meminum teh. Upacara minum teh Jepang dimulai oleh Sen no Rikyu pada periode Azuchi-Momoyama pada tahun 1576-1600. Awal tradisi ini dilakukan oleh kalangan bangsawan atau para samurai di Jepang pada tamunya.

Di dalam sadō ada kira-kira 42 aliran dan yang terkenal diantaranya adalah omote senke, ura senke, mushanokōji senke. Tiap-tiap aliran dalam sadō memiliki cara-cara yang berbeda mulai dari cara menyajikan sampai dengan cara membuka atau menutup fusuma. Dalam sadō selain tata cara menyajikan teh biasanya tidak bisa dipisahkan juga dari tata ruang, seni, ikebana ataupun masakan (ryōri).

Di dalam seni sadō terdapat filosofi yaitu “ichi go ichi e” artinya dalam hidup hanya satu kali pertemuan. Berdasarkan filosofi tersebut berarti tuan rumah harus menjaga sebuah pertemuan. Oleh karena itu tuan rumah harus menyediakan atau menyiapkan dengan sepenuh hati ketika menjamu tamu sehingga tidak hanya menyiapkan teh saja tetapi juga menyiapkan ruangan dengan ikebana, kakejiku yang digantung di tokoma (ruang tamu), chawan (mangkuk) yang gambarnya disesuaikan dengan musim dan sebagainya.

Pada zaman dahulu ruang minum teh dipisahkan dari dunia luar sehingga dibuatlah nijiri guchi. Nijiri guchi adalah pintu masuk ke ruang minum teh (chashitsu). Nijiri guchi mempunyai tinggi 68 cm dan luas 63 cm. Biasanya pintu ini merupakan ide dari Sinnorikyu yang terinspirasi dari pintu kapal yang melewati Yodogawa.

Teh yang disajikan ada yang disebut usucha dan koicha, Usucha dibuat dengan menambahkan air panas di atas bubuk the di dalam chawan (mangkuk) kemudian dikocok dengan chasen (alat pengocok teh) dengan cepat. Usucha biasanya disajikan untuk setiap tamu. Berbeda dengan usucha, koicha dikocok dengan perlahan, disajikan dalam mangkuk besar dan setiap tamu minum dalam mangkuk yang sama. Koicha melambangkan keharmonisan di antara tamu.

Untuk menemani minum teh, tuan rumah juga menyajikan kue higashi dan omogashi. Higashi adalah kue manis yang kering, sedangkan omogashi adalah kue basah. Para tamu meletakkan kue di atas kaishi (sejenis kertas napkin yang dibawa oleh tamu dan disimpan di kimono dan memakannya dengan kaishi di tangan.

Adapun cara minum teh adalah sebagai berikut:

  • Simpan kue di atas kaishi dan makanlah kue tersebut setelah dipersilahkan oleh tuan rumah.
  • Ketika teh dihidangkan, membungkuk ke tuan rumah dan tamu lainnya. Ambillah chawan dengan tangan kanan dan simpan ke lengan sebelah kiri.
  • Putarlah chasen 2-3 kali searah jarum jam. Hindarilah bagian depan chawan menghadap Anda.
  • Minumlah tiga kali dan akhirilah meminum terakhir denagn mengeluarkan suara (seruput).
  • Gunakan jari untuk membersihkan bekas minum di chawan kemudian bersihkan jari bekas melap chawan dengan kaishi.
  • Putarlah chawan sampai bagian depannya menghadap ke arah Anda.