Rumah Tradisional Jepang

Rumah Tradisional Jepang

Model Rumah Tradisional Jepang

Rumah tradisional Jepang biasanya terbuat dari kayu dan ditunjang oleh tiang-tiang kayu. Namun dewasa ini banyak juga rumah Jepang yang menggunakan beton (tekkin konkuriito). Sekarang ini banyak rumah di Jepang yang meniru gaya barat tetapi biasanya ada ruangan yang cenderung dirancang dalam gaya Jepang.

Ada beberapa istilah yang biasa digunakan di dalam rumah tradisional Jepang diantaranya:

Genkan

Genkan, jalan masuk, merupakan tempat untuk melepaskan sepatu, meletakkannya dan mengenakannya kembali. Selain itu genkan berfungsi sebagai batas pemisah bagian luar dan dalam rumah.

Tatami

Tatami adalah sejenis tikar tebal yang dibuat dari jerami, sudah dipakai di rumah Jepang sejak sekitar 600 tahun yang lalu. Sehelai tatami biasanya berukuran 180 cm x 90 cm. Ukuran ruang (kamar) biasanya didasarkan pada jumlah tatami. Lantai tatami terasa sejuk pada musim panas dan hangat pada musim dingin dan tetap lebih segar daripada karpet selama bulan-bulan lembab di Jepang.

Tatami Jepang

Futon

Futon yaitu matras yang dilapisi oleh kain yang dipakai untuk tidur. Futon biasanya digelar pada malam hari di atas tatami dan ketika pagi hari disimpan di dalam oshi ire sehingga pada siang harinya ruangan tersebut dapat digunakan sebagai ruang tamu.

Ofuro

Ofuro yaitu tempat berendam yang biasanya diisi oleh air panas. Bagi orang Jepang mandi bukanlah sekedar membersihkan badan, tetapi merupakan relaksasi untuk menghilangkan lelah dengan berendam di air panas. Kamar mandi di Jepang biasanya terpisah dengan toilet dan biasanya di dalam kamar mandi terdapat ofuro (bak mandi) untuk berendam dan tempat untuk membersihkan badan.

Air panas dalam ofuro biasanya dipakai oleh seluruh anggota keluarga sehingga apabila homestay di rumah orang Jepang air panas yang telah dipakai jangan dibuang. Oleh karena itu untuk menjaga air panas di dalam ofuro tetap bersih sebelum masuk ke ofuro badan harus dibersihkan terlebih dahulu. Tetapi akhir-akhir ini ofuro model Eropa dan unit bath mulai banyak digunakan dan banyak anak muda atau orang Jepang yang hidup sendiri hanya mandi dengan shower air panas saja tanpa berendam.

Toilet

Toilet atau toire (benjo) di Jepang ada dua jenis, yaitu toilet bergaya Jepang dan toilet bergaya barat. Di rumah-rumah orang Jepang sekarang hampir semua menggunakan toilet bergaya barat begitu pun di tempat-tempat umum. Tidak hanya itu toilet dengan gaya barat tersebut tersedia dengan berbagai macam jenis bahkan banyak rumah-rumah di Jepang yang menggunakan air hangat untuk membasuhnya. Di toilet umum di Jepang biasanya orang Jepang antri dalam satu barisan dan masuk ke setiap toilet yang kosong.

Fusuma dan Shôji

Fusuma adalah pembatas ruangan yang terbuat dari kayu yang ditempeli sejenis kertas. Pada umumnya fusuma digunakan untuk membatasi ruangan satu dengan ruangan lainnya. Fusuma dapat dicopot untuk menghubungkan ruangan satu dengan yang lainnya sehingga kamar dapat menjadi lebih luas. Sedangkan shôji adalah pembatas ruangan yang terbuat dari kayu yang ditempeli kertas yang disebut shôji.  Shôji biasanya digunakan untuk membatasi ruangan dengan koridor (rôka).

Oshi ire

Oshi ire (lemari dorong) biasanya digunakan untuk menyimpan futon (kasur lipat Jepang) atau barang-barang yang tidak dipakai setiap hari atau koromogae yaitu pakaian yang tidak dipakai lagi karena pergantian musim misalnya pakaian musim dingin yang tidak dipakai lagi karena telah berganti ke musim semi. Perlu diketahui Jepang memiliki empat musim dan setiap musim memiliki pakaian yang disesuaikan dengan kondisi tiap-tiap musim.

Danbô dan Reibô

Danbô adalah alat pemanas untuk mengubah udara di dalam ruangan menjadi hangat. Alat-alat pemanas tersebut misalnya yang bersifat manual seperti hibachi, irori sampai dengan alat elektronik seperti AC atau Fun Heater dan sebagainya. Irori selain digunakan untuk memasak juga digunakan untuk menghangatkan ruangan. Sedangkan yang dimaksud dengan reibô adalah alat pendingin yang biasanya digunakan AC atau kipas angin.

Kamidana dan Butsudan

Kamidana merupakan altar untuk menyembah roh nenek moyang bagi penganut agama Shinto, sedangkan butsudan adalah altar untuk menyembah dewa bagi yang beragama Budha.