Pendidikan Di Jepang

Pendidikan di Jepang

Sistem Pendidikan Di Jepang

Taman Kanak-Kanak (Yôchien)

Fasilitas pendidikan di Jepang untuk anak berusia di atas 3 tahun, sampai memasuki usia sekolah dasar (enam tahun atau lebih). Yôchien dikelola oleh institusi umum negara, regional atau yayasan milik swasta (umum). Biaya masuknya mahal begitu juga SPP-nya. Namun untuk SPP pemerintah kota akan memberikan tunjangan sebesar 80% dari besaran SPP yang dibayarkan. Diterima di akhir tahun (Desember).

Sekolah Dasar (Shôgakkô)

Sekolah dasar diperuntukkan bagi anak berusia 6-11 tahun yang berulang tahun antara tanggal 2 April tahun lalu sampai dengan April tahun ini (saat akan masuk sekolah).

Untuk usia anak Jepang sangat ketat menerapkan aturan. Tak ada toleransi meski misalnya anak yang didaftarkan lahirnya tanggal 2 April tahun ini (beda sehari saja). Karena itu orang Jepang sering memprogram kelahiran anaknya sebelum 1 April agar usia anaknya ketika masuk sekolah bisa tepat.

Orang tua yang anaknya telah terdaftar sebagai orang Jepang atau asing dan telah memasuki usia sekolah akan dikirimi Surat Pemberitahuan Memasuki Sekolah (Nyûgaku tsûchi/ Nyûgaku annai) oleh pemerintah kota. Dalam pemberitahuan itu akan dicantumkan sekolah mana yang harus dimasuki dan tanggal serta waktu ujian kesehatan anak tersebut.

Biaya sekolah dari sekolah dasar gratis, termasuk buku teks pelajaran. Yang tidak digratiskan adalah biaya untuk bahan belajar, perjalanan dan makan di sekolah. Jika karena alasan keuangan seseorang mengalami kesulitan untuk membayar biaya-biaya tersebut, sistem bantuan biaya sekolah(shûgaku hi no enjo seido) juga tersedia.

Pelajaran utama yang diberikan di sekolah dasar hanya empat yaitu belajar menulis dan membaca (huruf Jepang), matematika, olahraga dan budi pekerti.

Sekolah Menengah Pertama (Chûgakkô)

Sebelum tahun 1947 sistem pendidikan di Jepang untuk sekolah menengah di Jepang berkisar selama 5 tahun, tetapi setelah perang tepatnya tahun 1947 berubah menjadi 3 tahun.

Seperti halnya SD, anak usia SMP pun harus masuk ke sekolah yang telah disediakan di daerahnya. Siapapun anak-anak wajib masuk ke sekolah sampai jenjang SMP, selain SMP negeri ada juga SMP swasta.

Kegiatan sekolah dimulai dari pukul 8:50 pagi dan selesai sekitar jam 4 setiap hari. Makanpun disediakan oleh pihak sekolah. Setiap hari setelah selesai pelajaran para siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Untuk kegiatan ekstrakurikuler ini ditarik bayaran sesuai dengan kebutuhan, misalnya baju seragam olah raga, sepatu dan lain-lain.

Mata pelajaran SMP di Jepang terdiri dari bahasa Inggris, IPS, IPA, bahasa Jepang, olah raga, musik, matematika, kesenian dan keterampilan. Ditingkat SMP terdapat dua kali ujian yaitu ujian tenga semester (chûka tesuto) dan ujian akhir semester (kimatsu tesuto).

Sekolah Menegah Atas (Kôtôgakkô)

Untuk memasuki SMA ada juian masuknya. Beberapa sekolah menerapkan sistem penerimaan berdasarkan rekomendasi, apakah lulusan dari SMP di Jepang atau bukan. Ada beberapa jenis sekolah menengah atas yaitu:

  • Dikelompokkan berdasarkan kurikulum pelajarannya. Ada sekolah menengah atas reguler, kejuruan (teknik, perdagangan, pertanian, bahasa asing dan lain-lain).
  • Dikelompokkan berdasarkan jam sekolah. Ada sekolah menengah atas penuh waktu (siang hari atau sore hari) dan korespondensi.
  • Ada juga SMA yang khusus menerima orang asing (sekolah internasional). Biaya pendidkan sekolah dibebankan kepada peserta didik (tidak gratis). Seseorang dibebaskan dari biaya jika seorang siswa menerima tunjangan kesejahteraan berdasarkan undang-undang perlindungan kehidupan sehari-hari.

Perguruan Tinggi (Daigaku)

Untuk masuk perguruan tinggi siswa lulusan SMA di Jepang harus mengikuti ujian masuk universitas yang berskala nasional. Ujian masuk dilakukan dua tahap. Tahap pertama secara nasional dimana soal ujian disusun oleh kementerian pendidikan Jepang. Selanjutnya siswa harus mengikuti ujian masuk yang dilakukan oleh masing-masing perguruan tinggi, tepatnya ujian masuk di setiap fakultas. Skor kelulusan adalah akumulasi ujian masuk nasional dan ujian di setiap perguruan tinggi.

Siswa yang memilih perguruan tinggi dengan skor tinggi tetapi ternyata skornya tidak memadai dapat mengacu ke pilihan perguruan tinggi ke 2. Namun jika skornya tidak mencukupi maka siswa tidak dapat masuk ke perguruan tinggi. Selanjutnya siswa dapat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi swasta atau menjalani masa persiapan diri untuk mengikuti ujian masuk di tahun berikutnya (rônin).

Lulus dari sebuah perguruan tinggi di Jepang dapat dibilang mudah karena tanpa susah payah SKS yang diperlukan untuk lulus. Sehingga munculah sebutan untuk perguruan tinggi di Jepang seperti “jinsei no ichidai kyûkeijo” (tempat beristirahat sekali dalam seumur hidup), “shûshoku e no tsûkaten” (tempat peralihan sebelum masuk ke dalam masyarakat) dan lain-lain.