Mengenal Bahasa Jepang

Mengenal Bahasa Jepang

Huruf dalam Bahasa Jepang

Huruf yang digunakan dalam bahasa Jepang terdiri dari Romawi, Kanji dan Kana yang termasuk di dalamnya Hiragana dan Katakana. Kanji yang ditemukan di Cina mulai diperkenalkan ke Jepang pada kira-kira abad ke-9. Sedangkan Hiragana dan Katakana dibuat pada abad ke-11 yang kemudian pada zaman sekarang huruf Kana terutama Hiragana digunakan bersama dengan huruf Kanji. Pada awalnya huruf Kana terdiri dari 50 huruf kemudian ada beberapa huruf yang dibuang sehingga yang digunakan sekarang adalah 46 huruf. Hiragana dan Katakana sebenarnya berasal dari huruf Kanji yang disederhanakan. Kanji dan Hiragana biasanya digunakan untuk menulis kata-kata umum yang berasal dari bahasa Jepang, sedangkan untuk kata-kata yang berasal dari luar, onomatope digunakan Katakana.

Huruf Kana sering disebut dengan hyôon moji yaitu huruf yang melambangkan bunyi, sedangkan Kanji disebut dengan hyôi moji yaitu huruf yang melambangkan arti. Meskipun Kanji berasal dari Cina, sekarang ini banyak Kanji yang dibuat di Jepang. Kemudian setelah perang banyak Kanji yang muncul berbeda dengan Kanji yang digunakan di Cina, Taiwan ataupun Hongkong dan Korea. Selain itu dalam pelafalannya dalam bahasa Jepang mempunyai dua cara baca yaitu onyomi dan kunyomi. Onyomi adalah cara baca Cina sedangkan kunyomi adalah cara baca Jepang. Kanji yang digunakan di Jepang ada sekitar 450.000 huruf tetapi Kementerian Pendidikan Jepang menetapkan 1945 huruf yang disebut dengan Jôyô Kanji yang biasa digunakan dalam pendidikan wajib, majalah ataupun koran.

Honne dan Tatemae

Dalam percakapan sehari-hari orang Jepang ada yang disebut honne dan tatemae. Tetapi yang disebut dengan tatemae adalah ungkapan yang menghargai lawan bicara atau dalam budaya kita disebut basa-basi misalnya. Sedangkan honne adalah ungkapan yang sebenarnya atau ungkapan yang benar-benar ingin disampaikan.

Sangat sulit untuk membedakan apakah suatu ungkapan termasuk tatemae ataukah honne. Meskipun demikian, tatemae bukan kata-kata atau ungkapan yang digunakan untuk maksud yang tidak baik tetapi dapat dikatakan tatemae merupakan ekspresi untuk menunjukkan kesopanan, keramahan, perhatian kepada orang lain.

Percakapan Bahasa Jepang

Aimai

Bahasa Jepang disebut juga dengan bahasa aimai. Hal tersebut dikarenakan orang Jepang termasuk ke dalam kelompok yang secara implisit mengatakan sesuatu pikiran atau pendapat yang sulit untuk dikatakan sehingga mereka cenderung menggunakan aimai untuk mengatakannya. Secara etimologi aimai terdiri atas kata ai dan mai yang berarti “kurai” berarti gelap. Sehingga aimai dapat diartikan sebagai isi atau inti pembicaraan yang tidak jelas.

Dalam percakapan sehari-hari orang Jepang sering menggunakan kalimat-kalimat tidak lengkap seperti di atas, sehingga untuk melengkapinya lawan bicara harus menggunakan praduga atau asumsi sendiri mengenai akhir kalimat tersebut. Bisa saja praduga itu salah bisa saja benar.

Kebiasaan orang Jepang untuk tidak mengatakan sesuatu dengan jelas dan terus terang sangat berhubungan erat dengan sejarah dan budaya Jepang pada masa dahulu diantaranya Kome no Bunka (budaya padi). Pada zaman dahulu mata pencarian orang Jepang mayoritas petani dan selama berabad-abad pulau Jepang jauh dari pengaruh dan perdagangan asing sehingga masyarakat pada saat itu sangat bergantung satu sama lainnya untuk menghasilkan makanan. Bekerja bersama bagi mereka berarti menghasilkan banyak makanan sehingga bagi mereka menjaga keharmonisan antar anggotanya merupakan hal yang sangat penting daripada menjaga perasaan ataupun pendapat mereka sendiri.

Untuk menjaga keharmonisan tersebut mereka menghindari untuk menyatakan ide mereka secara terang-terangan. Salah satu contohnya adalah kebiasaan orang Jepang dalam menolak dan mengatakan “tidak” pada ajakan atau permintaan orang lain. Orang Jepang tidak akan mengatakan “tidak” pada ajakan atau permintaan lawan bicara, tetapi biasanya mereka menggunakan kata-kata lain yang tidak menyinggung perasaan lawan bicaranya. Kata-kata tersebut diantaranya chotto… (sebentar), kangaete okimasu (saya akan pertimbangkan).

Ragam Hormat

Ragam hormat dalam bahasa Jepang ada tiga yaitu bentuk sonkeigo yaitu bahasa yang digunakan pembicara untuk meninggikan derajat lawan bicara, kenjogo yaitu bahasa yang digunakan pembicara untuk merendahkan derajatnya di hadapan lawan bicara dan teineigo yaitu bahasa sopan atau lebih dikenal dengan bentuk masu. Misalnya kata iku (pergi) menjadi irassharu untuk sonkeigo, mairu untuk kenjogo dan ikimasu untuk teinego.

Hôgen atau Dialek

Ada banyak dialek lokal dalam bahasa Jepang disebut juga hôgen. Untuk menunjukkan benda-benda yang sama, ada berbagai kata dialek yang berbeda-beda. Juga ada macam-macam variasi dalam logat dan intonasi, serta dalam akhiran pada kata kerja dan kata sifat. Meskipun demikian orang-orang dari berbagai daerah dapat berkomunikasi dengan mudah karena menggunakan bahasa Jepang lisan standar yang sudah diterima luas.

Dialek di Jepang secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu dialek Hondo dan dialek Ryukyu. Dialek Hondo dapat diklasifikasikan menjadi sembilan dialek, yaitu Tohoku (termasuk Hokkaido), Kanto, Tokaitozan, Hokuriku, Kinki, Chugoku, Shikoku, Kyushu.